Pencegahan (Emergency) Gangguan Kesehatan Saat Banjir

Sudah memasuki musim hujan? Rumah anda beresiko terkena banjir? Apa saja yang harus kita persiapkan untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan buat kita sekeluarga?

Emergency Plan untuk Banjir

Pertanyaan terakhir ini perlu kita cermati dan persiapkan pencegahannya agar tidak mengganggu produktivitas kita dan keluarga. Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya atau Semarang merupakan kota yang sering terjadi banjir sehingga persiapan pencegahan banjir merupakan hal yang penting sekali.

Air menggenang ketika banjir bisa terkandung bibit penyakit seperti E.coli, Salmonella, Hepatitis A, typhoid dan tetanus atau bisa juga adanya air yang terkontaminasi bahan kimia. Ganguan kesehatan terjadi karena adanya kontak dengan air yang mengandung bibit penyakit melalui makanan atau minuman, selain itu juga dapat terjadi melalui kulit ataupun luka terbuka (tetanus) saat pembersihan atau terkena benda tajam, Kontak bahan kimia jadi karena adanya air yang mengandung bahan kimia sisa-sisa kegiatan pertanian ataupun industri.

Bagaimana Pencegahannya?

Selalu gunakan air bersih untuk mencuci tangan, gunakan sabun saat mencuci tangan, mandi, menyikat gigi, mencuci bahan makanan ataupun konsumsi air bersih. Air minum yang dimasak didihkan 10 menit sebelum dapat dikonsumsi atau gunakan air dalam kemasan. Jika terdapat kemungkinan adanya bahan kimia yang terbawa dalam banjir, gunakan alat pelindung diri lengkap, seperti sarung tangan karet, sepatu boot, kacamata safety atau bahkan chemical safety suit jika terdapat bahan kimia berbahaya(jika terjadi banjir dilokasi kerja).

Sebagai tambahan, periksa saluran listrik dan gas. Hal ini penting untuk menghindari konslet saat banjir ataupun sesudah banjir untuk menghindari tersengat listrik. Tabung gas dan salurannya diperiksa menghindari bahaya kebakaran dan ledakan juga sebagai kebutuhan memasak air minum saat sesudah terjadinya banjir.

Jika tubuh mengalami kondisi atau tanda-tanda terkena penyakit akibat kuman yang terbawa banjir ataupun tergigit hewan-hewan (tikus, anjing, dll) segera datang ke klinik kesehatan terdekat.selain itu tidak ada salahnya untuk memiliki nomer telepon penting sebagai persiapan menghadapi banjir. Misalnya badan SAR, kepolisian, rumah sakit/klinik, kantor kecamatan untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Safety Talk dan Efektifitasnya

Seperti biasa pagi hari di lokasi akan sangat sibuk, mulai dari persiapan alat, work permit, JSA, maupun alokasi personil. Seperti itulah kegiatan harian di lapangan. Salah satu kegiatan rutin harian sebelum memulai eksekusi pekerjaan adalah dilakukannya safety talk meeting, beberapa perusahaan ada yang menyebutnya tool box meeting, pre-job meeting dll. Semangat/idenya adalah sama, yaitu memberikan informasi dan mengingatkan secara langsung kepada pekerja mengenai pentingnya kesehatan, keselamatan dan lingkungan di area kerja.

safety

Kegiatan ini dilakukan oleh setiap grup/kelompok kerja terkecil yang dipimpin oleh leadernya/mandor/supervisornya. Topik yang dibahas biasanya disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan dalam hubungannya dengan cara penggunaan alat, material, prosedur dan metode kerja. Sebagai misal untuk pekerjaan pengelasan, topik yang dibahas bisa saja mengenai efek fume, PPE spesifik untuk pengelasan, bahaya kebakaran dll. Lebih enaknya lagi bisa kita bacakan dan diskusikan isi JSA pekerjaan yang akan dieksekusi.

Lalu apa tugasnya seorang HSE dalam kegiatan safety talk? Nah, ini yang kadang-kadang aplikasinya berbeda-beda. Pada perusahaan yang sudah memiliki safety culture yang tinggi, maka pemimpin dan pengisi topiknya adalah pemimpin pekerjaan dan kadang bergantian dengan anggota timnya, HSE sebagai facilitator saja. Tapi kalau belum tinggi, cukup orang HSE nya yang mengisi. Tapi tidak apa-apa, harapannya adalah sama, agar pekerja mengetahui bahaya, dan melakukan kontrol saat kerja sesuai dengan diskusi dalam safety talk.

Apa yang perlu kita pikirkan agar Safety Talk ini efektif?

  1. Kata kunci untuk kegiatan ini adalah membantu pekerja mengenali bahaya dan mengendalikan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing dalam tim.
  2. Pilihlah topik atau tema safety talk yang sesuai dengan kondisi kerja dan lingkungan.
  3. Lakukan safety talk di lokasi yang sesuai, apakah di kantor, di lokasi kerja atau didekat alat yang digunakan, dengan demikian agar tergambar jelas apa yang sedang didiskusikan oleh semua anggota tim.
  4. Perkenalkan topik bahasan dengan jelas, ajaklah semua anggota tim memahami dengan jelas dan detail mengenai pentingnya topik tersebut.
  5. Gunakan waktu 10-15 menit untuk membahas suatu topik agar peserta tidak bosan dan cukup interaksi dengan semua anggota tim.
  6. Hubungankan antara topik bahasan dengan situasi kerja yang ada.
  7. Jika dimungkinkan lakukan safety talk dengan melakukan peragaan, hal ini untuk menekankan point-point dari pengenalan dan pengendalian bahaya.
  8. Upayakan komunikasi 2 arah, hal ini untuk memastikan tersampaikannya informasi topik yang dibicarakan.
  9. Terakhir, siapkan daftar hadir untuk semua peserta.

Safety talk ini merupakan salah satu indikator terhadap komitmen dari manajemen tingkat bawah terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Kalau semua leader ditiap grup menjalankan secara teratur dan tepat waktu, ini indikator yang bagus terhadap budaya keselamatan yang ada di lokasi kerja.

Pencegahan Bahaya Slip, Trip and Fall pada Aktivitas Di Dalam Gedung

Dalam lokasi kerja dimanapun, kemungkinan kondisi tidak aman (unsafe condition) akan ada. Di lokasi konstruksi, proses maupun pada pekerjaan di dalam ruangan atau gedung pun memiliki kemungkinan seperti itu, walaupun kompleksitas terbentuknya unsafe condition bisa saja tidak seperti dilokasi konstruksi dan proses namun resiko keparahan di pekerjaan dalam ruangan akan sama.

Pekerjan didalam gedung seperti administrasi perkantoran berupa penyusunan dan penyimpanan dokumen, pengangkatan dokumen, alat kerja kantor, fotocopy, printing, kegiatan rapat, presentasi dan pelayanan konsumen merupakan aktifitas rutinitas dan memiliki frekwensi berulang ulang yang sering.

Salah satu dampak dari unsafe condition adalah slip, trip and fall.

slip-trip-fall

Kejadian ini dapat terjadi dalam kegiatan rutinitas dalam gedung atau perkantoran. Kondisi ini terjadi karena adanya peletakan dan penyimpanan yang tidak sesuai dengan postur tubuh (lemari yang tinggi), penggunaan alat yang tidak tepat (penggantian lampu tidak menggunakan tangga namun kursi), pengangkatan dokumen/barang yang dimensinya besar atau titik gravitasi barang yang berubah-ubah ( membawa barang cair dalam kemasan), lantai yang licin, tidak konsentrasi dalam bekerja, kabel listrik melintang tidak teratur, pencahayaan ruangan yang kurang, dan lain-lain.

Lalu bagaimana pencegahan yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi resiko yang ada? Beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain:

  • Sediakan saluran listrik, telpon, jaringan komputer dengan sistim duct/tertutup yang tidak melintang di lantai. Sediakan pada dinding. Jika dimungkinkan gunakan peralatan yang memakai tenaga baterai.
  • Sediakan penerangan ruangan yang cukup bagi rutinitas karyawan,
  • Sediakan karpet atau lantai yang tidak licin terutama di toilet,kamar mandi dan lokasi lain yang sering terdapat air dan dipintu masuk.
  • Sediakan lokasi yang cukup untuk menaruh barang dan lalu lintas karyawan (ruang penyimpan dokumen dan gudang)
  • Sediakan tempat penyimpanan yang stabil, tinggi dan lebarnya sesuai dengan postur dan jangkauan karyawan.
  • Sediakan tangga antar lantai gedung dengan handrail.
  • Identifikasi peralatan yang perlu pemeliharaan berkala terhadap kemungkinan keluarnya cairan dari peralatan agar tidak menimbulkan kebocoran dilantai.
  • Letakkan bahan-bahan cair dalam kemasan dilokasi tersendiri dan jika dimungkinkan disiapkan drainase.
  • Siapkan bahan penyerap cairan dilokasi penyimpanan bahan cair serta penampung sementaranya menjaga kemungkinan bcor atau rusaknya kemasan.
  • Lakukan pemindahan barang/dokumen baik dengan tangan maupun troli tanpa mengurangi jarak dan luas area pandang.
  • Pelihara jalur lalulintas dalam gedung/ruangan bebas dari cairan dan barang-barang.
  • Sediakan tempat untuk jas hujan dan payung untuk menghindari tumpahan air ke lantai.
  • Bersihkan laintai yang terdapat lumut yang dapat menimbulkan licin.
  • Siapkan prosedur house keeping.
  • Pelatihan hazard bagi pekerja.
  • Siapkan sign yang sesuai dan cukup bagi tenaga kebersihan.
  • Sosialisasi penggunaan sepatu yang anti slip dan pas digunakan.

Kesehatan keselamatan kerja dan lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana namun tetap mengendalikan resiko yang besar terhadap pekerjanya. Resiko slip, trip dan fall dapat menyebakan berkurangnya produktifitas pekerja bahkan loss time. Mari kita cegah slip, trip dan fall diruangan tempat kerja kita.

Job Safety Analysis (JSA) dan Aplikasinya pada Kegiatan Pekerjaan Harian

Job safety analysis (JSA) atau juga disebut analisa keselamatan kerja merupakan merupakan risk analysis sederhana yang digunakan sehari hari sebagai rencana untuk menyelesaikan pekerjaan secara aman.

Pengaplikasian JSA dan Emergency Plan

JSA berisi langkah-langkah metode peyelesaian pekerjaan yang kemudian dianalisa bahaya  timbul dan bagaimana pencegahan dilakukan. JSA ini disiapkan, sosialisasi, implementasi, dan review  oleh pelaksana kerja.

Apa sajakah yang perlu kita perlu lakukan agar persiapan, sosialisasi, implementasi, dan review  JSA oleh pelaksana kerja dan timnya dapat berjalan dengan baik, dan mudah?

Dan  yang terpenting adalah resiko kecelakaan dan kesehatan dapat dikendalikan.

Langkah pertama tentunya membuat batasan tipe pekerjaan yang memerlukan JSA, sebagai contoh:

  1. Pekerjaan tersebut memiliki resiko yang tinggi terhadap kecelakaan
  2. Pekerjaan tersebut memiliki angka kecelakaan yang tingggi dilokasi kerja
  3. Pekerjaan yang cukup kompleks untuk dibuatkan prosedur kerja sederhana
  4. Pekerjaan yang sifatnya baru bagi lingkungan kerja

Namun demikian tidak menutup kemungkinan lain yang disesuikan dengan kondisi dan sistem yang ada ditempat kerja yang dapat saja berbeda-beda disetiap perusahaan.

Langkah kedua, sebagai tahap persiapan dilakukannya pembuatan JSA. Tahapan ini adalah pembuatan JSA oleh pelaksana kerja. Ia sebagai penanggung jawab kerja serta keselamatan timnya perlu melakukan review terhadap tahapan-tahapan kerja, kejadian kecelakaan atau nearmiss pada pekerjaan yang sama pada masa lalu sebagai acuan pencegahan, kondisi bahaya dilingkungan yang ada, melakukan pemeringkatan kepada kemungkinan dan keparahan bahaya yang ada untuk pekerjaan yang akan dieksekusi.

Bahaya-bahaya yang telah teridentifikasi ditentukan langkah-langkah pencegahannya. Semakin banyak dan detail langkah pekerjaan, jenis bahaya dan pencegahannya akan semakin menurunkan resiko terhadap kecelakaan yang mungkin terjadi.

Langkah ketiga,  dilakukannya otorisasi dan sosialisasi oleh kepada penanggung jawab lokasi, penanggung jawab pekerjaan dan tim pelaksana pekerjaan berupa penanda tanganan sebagai tanda sudah diketahui dan disetujuinya tahapan kerja dan metode pencegahannya. Ideal sekali jika JSA ini dibawakan dalam toolbox meeting sebelum eksekusi pekerjaan.

Pada saat pelaksanaan pekerjaan, implementasi JSA sesuai dengan apa yang dilakukan di lapangan sebagai misal terpasangnya alat proteksi dan PPE seperti yang tercantum di JSA.

Tahap keempat, pada saat pekerjaan berlangsung ada kemungkinan metode kerja berubah karena adanya perubahan rencana dan alat atau bahan, kondisi lingkungan berubah.

Jika hal ini terjadi tentunya JSA perlu direvisi  disesuaikan dengan perubahan tersebut. Pada tahap review ini, beberapa implementasi lapangan dapat dilakukan dengan adanya audit JSA secara reguler dan diskusi dipermit meeting reguler.